Februari 27, 2021

HOTNEWS

Penyedia Berita & Informasi Terupdate

Ada yang Ramal Pasar Saham Ambruk 8%, Penyebabnya Ini!


Jakarta, HOTNEWS – Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa kalender bulan kedua tahun ini akan segera habis. Pekan ini akan menjadi minggu terakhir perdagangan pasar keuangan di bulan Februari. Wajah pasar finansial domestik akan menjadi hal yang menarik untuk kembali disoroti. 

Pasar saham Tanah Air ditutup dengan apresiasi minggu lalu. Indeks acuan utama (IHSG) naik 0,49%. Di sepanjang Februari, IHSG sudah naik 2,71%. Dalam 20 tahun terakhir, IHSG berhasil menguat 13 kali di bulan Februari dibanding bulan sebelumnya.


Nilai median penguatan IHSG di bulan Februari adalah 1,1% sejak tahun 2001-2020. Penguatan IHSG sepanjang bulan ini masih ditopang oleh sentimen terkait stimulus. Pemerintah memutuskan untuk memberikan insentif fiskal ke sektor otomotif.

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) dipangkas menjadi nol persen untuk jenis mobil dengan spesifikasi kapasitas di bawah 1.500 cc. Mobil yang kena insentif PPnBM juga harus dibuat di dalam negeri. 

Manuver yang dilakukan tidak hanya dari sisi fiskal saja. Pelonggaran moneter pun berlanjut. Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral nasional juga kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. 

BI-7 Day Reverse Repo Rate kini berada di 3,5% dan merupakan level terendahnya sejak dijadikan sebagai acuan kebijakan tahun 2016. Secara total BI sudah memangkas suku bunga sebesar 150 bps, sama seperti yang sudah dilakukan bank sentral AS yakni Federal Reserves (The Fed). 


Pengawas industri keuangan dalam negeri yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga ikut memberikan pelonggaran. Bobot risik kredit (ATMR) dan kebijakan Loan to Value (LTV) kendaraan bermotor serta kredit perumahan pun diturunkan oleh OJK.

Mulai bulan depan harga kendaraan roda empat bisa dibeli dengan harga murah. Pertama diskon dari PPnBM bisa mencapai 10-30% dan konsumen tak perlu membayar uang muka atau down payment (DP) nol persen. 

Sinergi kebijakan makro yang akomodatif ini ditujukan untuk menciptakan permintaan (demand creation) yang selama ini lesu akibat sekaratnya ekonomi global dan domestik di tengah krisis kesehatan yang dipicu oleh pandemi Covid-19.

Saham-saham emiten otomotif dan properti yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga sempat menguat minggu lalu. Berbeda dengan saham, rupiah justru mengalami pelemahan. 

Nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,64% di hadapan greenback. Namun rupiah masih stabil di kisaran Rp 14.000/US$. Koreksinya pun tak begitu tajam kendati BI kembali memangkas suku bunga acuan. 

Di pasar obligasi, surat berharga negara (SBN) berdenominasi rupiah dengan tenor 10 tahun justru harganya melemah. Hal ini tercermin dari imbal hasil instrumen investasi pendapatan tetap tersebut yang justru mengalami kenaikan 5,82%. 

Di Kutip Dari Berbagai Sumber

HOT NEWS