Pasrah.. Saham Nikel Berguguran, Masuk Jajaran Top Loser – HOTNEWS
Mei 11, 2021

HOTNEWS

Penyedia Berita & Informasi Terupdate

Pasrah.. Saham Nikel Berguguran, Masuk Jajaran Top Loser


Jakarta, HOTNEWS – Sentimen positif industri mobil listrik dan baterai nasional memudar sepekan ini. Saham emiten nikel terpelanting dan mendominasi jajaran saham pencetak koreksi terburuk (top loser).

Menurut data RTI, tiga dari lima saham yang pekan ini masuk jajaran top loser berasal dari sektor pertambangan dan pengolahan bahan baku mobil listrik, yakni INCO (PT Vale Indonesia Tbk), TINS (PT Timah Tbk), dan ANTM (PT Aneka Tambang Tbk).

Ketiganya anjlok masing-masing sebesar 15,2%, 14,9%, dan 14,8%. Dua saham lainnya bergerak di sektor perbankan dan bareng konsumer, yakni BBYB (PT Bank Neo Commerce Tbk) dan WIIM (PT Wismilak Inti Makmur Tbk).


Saham nikel selama ini menguat karena sentimen positif pengembangan mobil listrik. Namun, pekan ini kabar buruk menerpa dari pasar komoditas, di mana harga nikel kontrak 3 bulan di London Metal Exchange (LME) sempat terjun ke angka US$ 16.191/ton pada Kamis kemarin.

Penurunan sebesar 9,3% ini juga terjadi pada nikel pembelian langsung yang turun menjadi US$ 16.144/ton dari harga sebelumnya US$ 17.802/ton. Koreksi harga di LME juga ikuti harga nikel di bursa Shanghai yang turun 9% ke 122.040 yuan/ton pada hari yang sama. Itu merupakan level terendah sejak 9 Desember 2020.

Reuters melaporkan penurunan harga nikel pekan ini terjadi karena Tsingshan Holding Group, raksasa nikel dan stainless steel asal China, memutuskan memproduksi nikel matte dalam skala besar di Indonesia untuk menurunkan kekhawatiran terkait suplai nikel di tengah persaingan dengan penggunaan nikel untuk keperluan baterai.

Ada dua jenis nikel yang dikenal di pasaran: bahan stainless steel (kelas II) dan bahan baterai mobil listrik (kelas I). Menurut DBS, permintaan nikel kelas I akan tumbuh 5,9% setiap tahunnya hingga 2025. Untuk periode yang sama, pasokan nikel kelas I hanya tumbuh 3,3%,

Sementara itu, saham BBYB melemah jelang paparan publik insidental, di mana perseroan menyebutkan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross per Desember 2020 di angka 4,05% atau lebih buruk dari rerata industri sebesar 3,18%.

Saham WIIM melemah di tengah munculnya wacana pelarangan iklan rokok di media penyiaran melalui revisi Undang-Undang (UU) Nomor 32/2002 tentang Penyiaran. Hal ini terungkap dalam diskusi yang digelar Koalisi Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau.

“Draf Revisi UU Penyiaran yang diserahkan Komisi I DPR ke Badan Legislasi periode lalu memang sudah ada tentang pelarangan iklan rokok,” ujar Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, pada Jumat (5/3/2021).

TIM RISET HOTNEWS

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)


Di Kutip Dari Berbagai Sumber

HOT NEWS