IHSG Ditutup Terkoreksi di 6.119, Apa Penyebabnya? – HOTNEWS
April 21, 2021

HOTNEWS

Penyedia Berita & Informasi Terupdate

IHSG Ditutup Terkoreksi di 6.119, Apa Penyebabnya?


Jakarta, HOTNEWS – Sempat menguat di awal perdagangan, laju Indeks Harga Saham Gabungan terus tergelincir ke zona merah hingga perdagangan berakhir dengan pelemahan sebesar 0,78% ke posisi 6.199,64 poin.

Laju IHSG tak seirama dengan mayoritas pergerakan bursa saham di Asia yang melaju di zona hijau. Indeks Nikkei, Jepang misalnya menguat 0,99%. Penguatan juga terjadi di bursa saham Hang Seng, Hong Kong dan Straits Times, Singapura masing-masing sebesar 0,81% dan 1,22%.

Head of Research PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma berpendapat, melemahnya IHSG disebabkan oleh tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah di tengah sentimen kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury).


Data perdagangan di pasar spot Bloomberg menunjukkan, kurs Rupiah menunjukkan pelemahan ke posisi Rp 14.405 per dollar AS.

“Pelemahan IHSG disebabkan karena pelemahan Rupiah dan kekhawatiran kenaikan imbal hasil obligasi AS. IHSG itu cukup sensitif terhadap pelemahan Rupiah,” kata Suria Dharma, saat dihubungi HOTNEWS, Selasa (9/3/2021).

Tidak hanya itu saja, yang jadi penyebab pelemahan IHSG juga lantaran aksi jual pelaku pasar asing yang hari ini cukup besar, yakni sebesar Rp 782,69 miliar. Beberapa saham yang dilepas asing cukup besar HOTNEWS lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 497,1 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 189,8 miliar dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp 81,8 miliar.

“Net sell asing cukup besar hari ini,” kata Suria melanjutkan.

Sementara itu, katalis positif lainnya di dalam negeri seperti survei konsumen Bank Indonesia pada Februari yang mengindikasikan adanya perbaikan menjadi 85,8 dibanding posisi Januari 84,9 belum cukup mampu menopang kenaikan IHSG.

Pengamat pasar saham PT MNC Asset Management, Edwin Sebayang menuturkan, pasar saham kembali dilanda tekanan jual pada perdagangan Selasa ini.

“Turunnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar dan naiknya yield obligasi baik di AS dan Indonesia membuat IHSG dilanda tekanan jual,” kata Edwin Sebayang.

Sementara itu, sebelumnya, aksi jual sebelumnya terjadi di pasar komoditas yang menyebabkan beberapa harga komoditas mengalami kontraksi seperti minyak dunia, emas, batu bara dan timah dan pergerakan indeks Wall Street yang cukup bervariatif.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)


Di Kutip Dari Berbagai Sumber

HOT NEWS