BI Sebut Dolar AS Mau Lesu, tapi Rupiah Keok, Bagaimana nih? – HOTNEWS
April 17, 2021

HOTNEWS

Penyedia Berita & Informasi Terupdate

BI Sebut Dolar AS Mau Lesu, tapi Rupiah Keok, Bagaimana nih?


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/3/2021), dan berada di level terlemah dalam 4 bulan terakhir.

Melansir data Refinitiv, rupiah hari ini melemah 0,03% ke Rp 14.395/US$, di pasar spot. Hingga hari ini, rupiah sudah melemah dalam 5 hari beruntun, dan berada di level terendah sejak 5 November lalu.  




Meski sedang lemah, Bank Indonesia (BI) memprediksi rupiah akan menguat ke depannya. Sebab, outlook dolar AS masih suram dalam jangka menengah dan panjang, sementara rupiah masih jauh dari nilai fundamentalnya.

Hal tersebut diungkapkan, Haryadi Ramelan, Kepala Departemen Pengelolaan Devisa, sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI menjelaskan dalam kondisi sekarang. Ia menyebut negara berkembang seperti Indonesia menjadi satu tempat tujuan menarik oleh para pemegang dana.

Negara maju mematok suku bunga yang rendah, sehingga imbal hasil dari penempatan dananya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Suku bunga acuan 7DRR sebesar 3,5% dan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun di atas 6%.

“Skenarionya dolar AS akan melemah dalam jangka menengah panjang, dan memberikan ruang gerak bagi stock market dan bond market kita,” kata Haryadi seperti dikutip, Selasa (9/3/2021).

Posisi rupiah saat ini, menurut Haryadi masih jauh dari fundamentalnya. Sehingga ruang penguatan terbuka cukup lebar. Apalagi indikator perekonomian dalam negeri terus menerus menunjukkan perbaikan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi hingga neraca pembayaran.

“Kami yakin, rupiah masih undervalue, ruang penguatan rupiah masih ada,” tegas Haryadi.

Tidak hanya BI, hasil survei terbaru dari Reuters juga menyebutkan dolar AS masih akan tertekan ke depannya. Penguatan dolar AS belakangan ini disebut sebagai reflation trade, yakni penguatan akibat ekspektasi membaiknya perekonomian AS serta kenaikan inflasi.

Survei yang dilakukan Reuters pada periode 1 sampai 3 Maret lalu terhadap 70 analis valuta asing menunjukkan sebanyak 29% memprediksi reflation trade masih akan terjadi kurang 6 bulan ke depan, 26% melihat kurang 3 bulan ke depan, kemudian 14% kurang dari 1 bulan, dan 9% menyatakan hal tersebut sudah berakhir.

Sementara yang memprediksi reflation trade akan berlangsung lebih dari 6 bulan ada sebanyak 22%.

Artinya, hasil survei tersebut menunjukkan mayoritas para analis valuta asing melihat reflation trade akan berlangsung kurang dari 6 bulan ke depan.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Taper Tantrum Jadi Kecemasan Utama Pelaku Pasar

Di Kutip Dari Berbagai Sumber

HOT NEWS