Lazismu Pekalongan Bentuk Korps Dai Zakat – HOTNEWS

  • Bagikan


KAJEN – Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pekalongan membentuk korps dai zakat di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan, Rabu (31/3/2021). Kegiatan tersebut bertujuan merangkul para dai dan mendapatkan support dari para dai untuk meningkatkan penghimpunan dana zakat, infaq, shadaqah dan dana sosial keagamaan lainnya (ziska). Sebanyak 75 dai hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Lazismu Pekalongan, Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Pekalongan dan Majelis Tarjih PDM Kabupaten Pekalongan.

Ketua Dewan Syariah Lazismu Kabupaten Pekalongan yang juga Wakil Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, Ahmad Sulaiman, menyampaikan, Muhammadiyah adalah rumah besar untuk para dai, tetapi Muhammadiyah mempunyai pedoman dan kaidah yang harus dipatuhi. “Jangan paksakan pendapat sendiri atau pendapat personal dai lain, gunakanlah panduan dari Majelis Tarjih Muhammadiyah. Banyak dai yang masuk ke Muhammadiyah, karena memang Muhammadiyah adalah rumah besar untuk semua umat, tetapi di Muhammadiyah tetap ada aturan dan pedoman, jadi gunakanlah pedoman itu. Jika tidak mau menggunakan pedoman Majelis Tarjih Muhammadiyah silahkan jangan menjadi dai Muhammadiyah,” tegas Sulaiman.

Persoalan perhitungan zakat memang menjadi problematika tersendiri bagi para dai, sehingga materi-materi mengenai perhitungan zakat, kadar nishab dan jenis-jenis harta yang perlu dizakati, jarang sekali disampaikan dalam pengajian-pengajian. Terbukti dari banyaknya minat dai yang bertanya mengenai pedoman dan kaidah-kaidahnya.

“Salah menyampaikan kami bisa masuk neraka. Kami juga berdagang, jadi kami juga takut jika zakat yang kami keluarkan ternyata tidak sesuai dengan kaidah dan perhitungannya,” kata salah satu peserta dari Aisyiyah. Menyikapi hal tersebut, Ketua PDM Kabupaten Pekalongan, Mulyono, menyampaikan pentingnya pertemuan korps dai zakat ini untuk menemukan kesepahaman bersama. “Persoalan zakat memang tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang terbatas, di perguruan tinggi saja materi tentang zakat mempunyai bobot hingga 3 sks,” ungkap Mulyono.

Dikutip dari Berbagai Sumber

HotNews

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *