HOTNEWS
Bandar Lampung – Di balik kebebasan pers yang dijamin Undang-Undang, munculnya toxic-toxcic yang merusak citra jurnalisme yang sebenarnya, wartawan bodrek. Mereka bukan pemburu fakta, mereka tak sekedar merusak pilar demokrasi, tetapi sekadar mencari recehan yang mengaku wartawan demi kepentingan pribadi dengan memanfaatkan website media yang tak resmi hingga tidak memiliki badan hukum yang jelas .
Di mana-mana, mereka yang mengatas namakan dirinya wartawan, saat ini semakin marak bagai jamur di musim hujan. Modus mereka klise, selalu sama datang dengan menggunakan Id.card atau kartu pers dari media, lalu berbasa-basi seolah ingin wawancara. Namun, pada akhirnya, mereka hanya mencari celah untuk mencari beberapa kesalahan atau bahkan memeras dengan ancaman pemberitaan mengunakan website nama suatu perusahaan media sebagai produk berita.
Profesi wartawan kembali tercoreng akibat ulah oknum yang mengatas namakan media, namun tidak menjalankan prinsip jurnalistik yang benar.
“Media gadungan menjadi salah satu persoalan yang kerap mencoreng citra jurnalis di hadapan masyarakat dan publik .di tengah perkembangan jurnalisme digital saat ini , fenomena itu ternyata masih ditemui di Provinsi Lampung yang mana semakin menjamur media diduga Abal – Abal modus takut – takuti dengan ancaman pemberitaan untuk kepentingan pribadinya.
“Seperti yang terjadi di wilayah Bandar Lampung mulai bermunculan media – media hingga puluhan media diduga kuat tidak memiliki badan hukum disinyalir media hanya digerakan oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan wartawan yang membuat banyak resah masyarakat Kota Bandar Lampung diantaranya nama website media diduga Abal – Abal .
1.beritanasional.my.id .
2.inewsterkini.my.id.
3.suararakyat86.my.id.
4.tipikornusantara.my.id
5.suaralampung.my.id
6.kanalnusantarainfo
Parahnya, oknum mengaku wartawan modal Id.card dan banyak membuat website seperti media resmi ini sering menyasar pihak-pihak yang awam soal media, bahkan ada yang menakut-nakuti kades di desa-desa, pengusaha kecil, atau banyak hal yang ada celah. Dengan semacam ancaman berita buruk, mereka berharap targetnya ketakutan dan memilih “damai” untuk memberikan uang untuk menghapus pemberitaan.
Ironisnya, saat ditelusuri lebih jauh, kumpulan mengaku media sendiri justru diduga sebagai media tidak jelas alias abal-abal dan hanya bermodal kan dana sebesar 350 untuk membuat website media tanpa memiliki legalitas perusahaan yang jelas .
Dalam struktur medianya, tidak ditemukan redaksi resmi yang lengkap, tidak ada daftar wartawan lapangan, dan box redaksi yang semestinya menjadi standar transparansi media juga nihil informasi penting seperti :
Nama-nama wartawan
Nomor akta notaris pendirian perusahaan media
Badan hukum atau legalitas yang terdaftar resmi di Dewan Pers
Alamat kantor yang sah dan bisa diverifikasi
Bahkan lebih miris, media ini hanya dijalankan oleh satu orang yang mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred), namun tidak memiliki struktur organisasi pers sebagaimana mestinya. Lalu, jika hanya Pemred saja, wartawannya siapa?
Staf redaksinya mana?
Apakah ini media atau hanya alat untuk menyerang pribadi dengan kedok berita?
Kami mengimbau kepada masyarakat dan seluruh pihak untuk tidak mudah percaya pada media yang tidak jelas asal-usulnya, serta selalu cek box redaksi dan legalitas medianya.( Yogi ) HOTNEWS.
bandar Lampung











