Hotnews.web.id.Aceh Timur_Empat bulan telah berlalu sejak banjir dan longsor melanda Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Namun bagi warga Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, masa pemulihan masih jauh dari harapan. Hingga saat ini, sebanyak 40 kepala keluarga masih bertahan hidup di tenda darurat dan gubuk sederhana yang dibuat sendiri, menunggu janji pembangunan hunian sementara (huntara) yang tak kunjung terealisasi.
Di sudut desa yang masih menyisakan bekas lumpur dan puing kayu hanyut akibat bencana, bangunan huntara yang direncanakan berdiri setengah jadi. Tiang-tiang kayu dan rangka struktur yang belum selesai menjadi bukti nyata terhentinya proyek yang seharusnya menjadi tempat berteduh bagi korban bencana.
Kepala Dusun Peulalu, Amran, mengungkapkan bahwa pembangunan huntara terhenti karena para pekerja meninggalkan lokasi proyek. Menurutnya, pekerja mengaku belum menerima pembayaran dari pihak terkait, sehingga tidak dapat melanjutkan pekerjaan.
“Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri. Mereka juga mengaku belum dibayar oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” ujar Amran.
Ia menambahkan, sejak kejadian bencana, dusun tersebut jarang mendapatkan kunjungan dan perhatian dari pemerintah daerah. Warga merasa kondisi mereka belum mendapatkan perhatian yang layak.
Di tengah keterbatasan, warga berusaha bertahan dengan cara seadanya. Intan Putriyani, salah satu warga, menceritakan bagaimana dirinya bersama keluarga harus mengumpulkan kayu bekas untuk membangun gubuk setelah tempat tinggal mereka hancur terbawa banjir.
“Sudah dua bulan saya tinggal di gubuk ini. Setelah banjir kami kumpulkan kayu bekas dan membuat barak sendiri. Huntara sampai sekarang belum siap, kontraktor dan pekerjanya sudah pergi,” kata Intan.
Ia juga menyebutkan, sebagian pekerja yang sempat terlibat dalam proyek huntara bahkan meninggalkan hutang di kedai-kedai milik warga sebelum meninggalkan desa.
Harapan serupa juga disampaikan Murtini, warga lainnya. Ia berharap pemerintah segera menyelesaikan pembangunan huntara agar korban bencana tidak lagi hidup dalam ketidakpastian.
“Kami berharap huntara segera dibangun dan diselesaikan. Kami sudah berbulan-bulan tidur di tenda. Pemerintah tolong pikirkan kondisi anak-anak kami yang harus tinggal di tempat yang tidak nyaman,” ungkapnya.
Menurut warga, selama ini telah banyak pihak yang datang untuk melakukan peninjauan dan pendataan kondisi desa. Namun hingga kini, mereka belum merasakan adanya perubahan nyata yang meningkatkan kualitas hidup mereka.
Di tengah perubahan cuaca yang ekstrem – dinginnya malam dan panasnya siang di tenda darurat – warga Dusun Peulalu hanya bisa berharap bahwa janji hunian sementara yang telah lama dinantikan segera menjadi kenyataan.(HMr)










