“SPMB 2025: Sistem Baru, Masalah Lama?”
Oleh Sugeng Pramono ( Ketua Aaliansi Jurnalis Persada Way Kanan )
Hotnews. Web. Id. Way kanan
Tahun ajaran baru sebentar lagi dimulai, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, riuh rendah keluhan masyarakat kembali terdengar. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025, yang digadang sebagai wajah baru pendidikan Indonesia, menuai berbagai respons dari publik. Aliansi Jurnalis Persada (AJP) way kanan di bawah kepemimpinan Sugeng Purnomo, mencermati fenomena ini dengan seksama.
Di atas kertas, SPMB 2025 tampak lebih modern dan manusiawi. Proses pendaftaran dilakukan secara digital, menyederhanakan birokrasi yang dulunya melelahkan. Empat jalur penerimaan — berdasarkan domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi — menawarkan pilihan yang terlihat adil dan beragam. Penghapusan syarat Kartu Keluarga sebagai satu-satunya bukti domisili pun dinilai sebagai langkah progresif untuk menutup celah manipulasi data.
> “Kita patut mengapresiasi kemajuan teknis sistem ini. Ada iktikad baik negara untuk membuka ruang seleksi yang lebih merata,” ujar Sugeng Purnomo saat ditemui di kantor AJP.
Namun, di balik tampilan modern itu, tersimpan kenyataan yang tak selalu seindah harapan.
Aliansi Jurnalis Persada menemukan fakta bahwa tidak semua keluarga di pelosok memiliki akses yang memadai ke teknologi. Proses daring yang disambut baik di kota-kota besar justru menjadi batu sandungan bagi masyarakat di desa-desa, terutama yang tak memiliki jaringan internet
RIAN AW.










